Beranda › Daftar surah › Surah Al-Mutaffifin › Ayat 1

Tafsir Surah Al-Mutaffifin ayat 1

  • Ayat 1 dari 36
  • Juz 30
  • Makkiyah
  • 83:1

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝١

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Terjemahan makna: Kementerian Agama Republik Indonesia — versi 1.0.1 · QuranEnc.com

83:1

Tanya tentang ayat ini

Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr al-Qur`ān

Markaz Tafsir li ad-Dirasat al-Qur`aniyyah · QuranEnc.com

 Kebinasaan dan kerugian bagi orang-orang yang curang.

Tafsir As-Sa`di

Taisir al-Karim ar-Rahman — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa`di — versi 1.0.0 · QuranEnc.com

(1-6) ﴾ وَيۡلٞ ﴿ "Kecelakaan besarlah," adalah kata-kata azab dan siksaan, ﴾ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang curang." Ini dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan FirmanNya kemudian, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain," yakni me-ngambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkan-nya secara utuh, tidak kurang, ﴾ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ ﴿ "dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain," yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau tim-bangan, ﴾ يُخۡسِرُونَ ﴿ "mereka mengurangi," yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, tidak memenuhi tim-bangan dan takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditujukan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang.

Baca selengkapnya: Tafsir As-Sa`di

Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus mem-berikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan menolong kita pada setiap kebaikan.

Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, ﴾ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ 4 لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ 5 يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 6 ﴿ "Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?" Yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.

العربيةEnglish

Teks Al-Qur`an: Tanzil Project (Uthmani v1.1, CC BY 3.0). Terjemahan dan tafsir dikutip apa adanya dari Ensiklopedia Al-Qur`an QuranEnc.com, masing-masing dengan sumbernya. Teks ini dikutip apa adanya dari sumbernya; tidak ada jawaban yang ditulis oleh AI. Quran Chat tidak mengeluarkan fatwa.